Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Sekolah Bukan Hanya Tempat Mengejar Angka

 





Oleh Khairul Azan

Pemandangan yang begitu tidak asing barangkali hadir di lingkungan kita dan kehidupan dunia sekolah yaitu terjebak dalam mengejar angka. Ketika anak pulang dari sekolah membawa hasil ujian yang telah diikuti, para orang tua akan bertanya “Berapa nilaimu?” bukan “Apa yang kamu dapatkan dan pelajari hari ini di sekolah?” dan bukan pula bertanya “Pelajaran apa yang kamu paling sukai?” Namun seringkali ketika anak mendapatkan angka 80, 90 atau bahkan 100, adalah barometer orang tua menganggap anaknya telah mampu.

Seringkali kita terjebak dalam pola penilaian dimana angka-angka itu menjadi semacam bahasa untuk menilai keberhasilan seorang anak. Nilai angka yang tinggi dipandang sebagai suatu keberhasilan, sedangkan nilai rendah sering kali dianggap sebagai tanda anak tersebut gagal. Dengan paradigma seperti ini, perlahan, sekolah pun akan berubah menjadi tempat anak belajar bukan semata-mata karena ingin mengetahui sesuatu dan menumbuhkan rasa ingin tahu, namun melainkan karena ingin mendapatkan angka yang baik sebagai satu-satunya barometer keberhasilan pendidikan sekolah. 

Jika kita mahu menggeser cara pandang dalam menilai keberhasilan pendidikan. Maka akan terbuka lebar, bahwa nilai hanyalah salah satu informasi tentang proses belajar seorang anak ketika mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ia tidak semerta-merta menggambarkan sepenuhnya rasa ingin tahu, keberanian bertanya, kemampuan bekerjasama, kreativitas, ketekunan, kepedulian, kemampuan memecahkan masalah, maupun perkembangan karakter seorang peserta didik.

Ki. Hajar Dewantara dalam Putri dan Akhwani telah mendefinisikan pendidikan merupakan upaya untuk menjadikan seseorang memiliki budi pekerti, wawasan luas dan tanggap terhadap budaya guna melestarikan dan memajukan kebudayaan serta mencapai kebahagiaan sebagai kodrat manusia. Lebih lanjut berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 juga dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Begitu juga dengan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang megaskan bahwa kualitas hidup dan kesejahteraan siswa tidak hanya diukur sebatas angka di atas kertas atau nilai akademiknya melainkan hubungan sosial, keterlibatan di sekolah, kesehatan psikologis, ketangguhan, keseimbangan belajar dan kehidupan, serta rasa memiliki sebagai bagian penting dari kehidupan siswa.

Lalu muncul pertanyaan, apakah nilai dalam bentuk angka tersebut tidak dibutuhkan? Tentunya saja jawabnya “dibutuhkan”. Sekolah membutuhkan asesmen untuk mengetahui apakah proses pembelajaran berjalan dengan baik dan telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Guru perlu mengetahui bagian mana yang sudah dikuasai siswa dan bagian mana yang masih membutuhkan pendampingan atau remedial. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika angka yang seharusnya menjadi alat, namun berubah menjadi tujuan utama pendidikan.

Penilaian hendaknya dilakukan secara komprehesif, bukan hanya mengukur kognitif namun juga terkait aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Tentunya pergeseran paradigma ini bukan hanya harus dipahami oleh guru-guru di sekolah, namun tak kalah pentingnya adalah para orang tua.  

Sumber Bacaan
1. Marta Cignetti dan Mario Piacentini, Beyond Grades: Raising the Visibility and Impact of PISA Data on Students’ Well-being, OECD Education Working Papers, No. 313 (Paris: OECD Publishing, 2024).
2. Vena Ayunda Ramadhani Putri, Akhwani, Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Pendidikan, National Conference for Ummah (NCU), Volume 01 Nomor 01 (2023).
3. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.
















No comments

Powered by Blogger.