Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

JAM DINDING VS. JAM TANGAN

 


Oleh Khairul Azan

Jam dinding dan jam tangan. Ya, dua benda yang sangat dekat dengan kita. Jam dinding sering dipajang di rumah, di kamar, di sekolah, di masjid, di kantor dan tempat-tempat lain yang butuh penunjuk waktu. Sementara jam tangan adalah alat penunjuk waktu yang dikenakan di pergelangan tangan dan fleksibel di bawa kemana-mana oleh pemiliknya. 

Jam dinding dan jam tangan memiliki fungsi yang sama, yaitu sama-sama sebagai benda penunjuk waktu. Memiliki jarum jam yang terus bergerak, yang memberikan makna bahwa waktu akan terus berjalan. Meski memiliki kesamaan fungsi, ternyata ketika kita jeli, ada satu perbedaan sederhana yang memberikan makna mendalam dalam kehidupan. Apa itu? Jam dinding sebagian besar dilihat oleh banyak orang, sementara jam tangan hanya untuk pemiliknya. 

Jam tangan memberikan pesan bahwa kita seringkali menjadi pengingat untuk orang lain, “jangan terlambat”, “gunakan waktu sebaik mungkin” dan banyak lagi kalimat-kalimat nasihat yang kita sampaikan kepada orang banyak. Sementara sudahkah kita mengaplikasikannya? Ini pertanyaan mendasar yang ditujukan kepada pribadi masing-masing.  

Jangan sampai kita seperti jam dinding yang selalu terlihat oleh orang lain, yang hanya menunjukkan waktu untuk orang lain, tetapi jadilah seperti jam tangan yang selalu menjadi penginat dan sangat dekat dengan dirinya untuk menjadi pengingat agar selalu memperbaiki diri. 

Waktu bukan sekadar angka pada jarum jam yang terus bergerak, namun waktu adalah kehidupan yang kita jalani seiring jantung yang masih tetap berdetak. Satu detik yang telah berlalu tak mampu kita beli untuk ia kembali. Hari kemarin tentunya tidak lagi kita bisa ulang, sementara waktu akan datang tak juga pasti kita nikmati. 

Oleh karena itu, jangan terlalu suka mencari kesalahan orang lain, sehingga lupa pada diri sendiri. Bak kata pepatah “Semut di seberang lautan tampak oleh kita, sementara gajah di pelupuk mata kita abaikan”. 

Fokuslah pada diri sendiri dan terus belajar untuk memperbaikinya. Jangan jadi manusia yang hanya sebagai penonon waktu, namun jadilah manusia sebagai pelaku dengan cara memanfaatkan waktu yang ada untuk membuat karya-karya bermakna.

No comments

Powered by Blogger.