Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

DARI SEMENANJUNG PESISIR BENGKALIS KE SELAT MELAKA; MEMBUMIKAN LITERASI UNTUK MEWUJUDKAN BENGKALIS KOTA PENDIDIKAN

 



Oleh Khairul Azan

Bengkalis adalah pulau kecil yang berada di daerah pesisir. Jika dilihat secara geografis, Bengkalis sering dikatakan sebagai pulau yang berada pada zona 2T (terluar dan terdepan). Terluar karena letaknya sebagai salah satu kabupaten yang berada di ujung Provinsi Riau dan terdepan karena berhadapan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Karena Bengkalis di kelilingi laut, tak jarang orang yang belum mengenal, Bengkalis dipersepsikan sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, walaupun seyogyanya Bengkalis adalah bagian dari Provinsi Riau.

Kabupaten Bengkalis adalah Kabupaten tertua di Provinsi Riau. Segenap potensi daerah yang ada di dalamnya, di bawah ada minyak bumi, di atas ada kelapa sawit, dan ada pantai sebagai kekayaan bahari. Selain itu, juga didukung dengan segenap potensi daerah melalui berbagai komoditas pendukung, diantaranya jika musim durian telah tiba, maka orang-orang luar akan berdatangan ke Bengkalis karena ingin menikmati nikmatnya durian yang ada. Dan tak kalah membanggakan, di pulau kecil Bengkalis hadir perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sebagai wadah mengasah segenap kemampuan putra putri daerah, diantaranya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Datuk Laksemana Bengkalis, Institut Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis dan Politeknik Negeri Bengkalis. Hadirnya perguruan tinggi tersebut juga merupakan bentuk konsentrasi atau perhatian pemerintah daerah dalam muwujudkan cita-cita mulia yang ingin menjadikan Bengkalis sebagai kota pendidikan. 

Jika dilihat dari data yang ada, Bengkalis berada pada urutan pertama sebagai Kabupaten terkaya yang ada di Provinsi Riau, dan urutan ke tujuh di tingkat nasional. Selain memiliki kekayaan akan sumber daya alam, Bengkalis juga dikenal sebagai pulau penulis. Banyak terlahir para penulis-penulis hebat yang telah mengukir sejarahnya, di antara penulis-penulis tersebut adalah Soeman Hasiboean atau yang lazim dikenal sebagai Soeman Hs. yang lahir pada tahun 4 April 1904. Hari ini namanya diabadikan sebagai nama perpustakaaan wilayah Provinsi Riau yang salah goresan tintanya tertuang dalam novel yang berjudul “Mencuri Anak Perawan” yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1932, jauh sebelum Indonesia merdeka. 

Seiring perjalanan waktu, seperti ombak menghempas batu karang, seperti pasir yang hilang dibawa air. Semangat menulis di pulau Bengkalis tidak pernah surut, namun mulai tenggelam ke dasar laut. Penulis-penulis lebih cenderung bergerak secara individual, karya-karya hanya bisa dinikmati segelinir orang.

Suatu kehormatan dan kebanggaan, 26 September 2026 adalah hari dan waktu dimana mutiara yang selama ini tenggelam di dasar laut pesisir itu muncul kembali di permukaan. Semangat-semangat membumikan literasi mulai terpancar di wajah-wajah pegiatnya. Tidak lagi bicara secara individual namun sudah bergerak secara kolektif dan kolegial. Melalui rumah yang diberi nama Perkumpulan Penulis Bengkalis (PENALIS Bengkalis) menyambut hangat kedatangan tamu dari negeri serumpun Melayu yang perkumpulan penulisnya diberi nama Penulis Negeri Melaka (PENAMA).

Ruang perhelatan itu menjadi begitu hangat. Hangat karena memiliki frekuensi yang sama dalam bingkai leterasi menjunjung budaya. Warna-warni pakai Melayu dikenakan menunjukkan indahnya dalam keramahan dan kesopanan. Tak ada sekat yang membedakan, meski berbeda negara, namun terasa begitu dekat. Meski pertemuan begitu singkat, namun isi pembicaraan begitu padat. Bukan hanya pertemuan biasa, namun pertemuan bagaimana melahirkan karya bermakna di wilayah serumpun Melayu.

Pertemuan tersebut merupakan titik awal untuk yang lebih besar. Hari ini PENALIS memang baru berdiri, baru sebatas pondasi yang dibangun, namun perlahan akan berdiri tiang, dinding dan atap sebagai rumah yang hangat dengan semangat-semangat yang besar untuk membangun negeri melalui literasi. 

Dunia literasi akan berkembang ketika saling bahu membahu lewat berbagai kebijakan dan kegiatan. Memang tidak mudah membudayakannya, namun bisa ketika kita mahu memulai dan bergerak bersama. Pintu kolaborasi literasi antar negara (Indonesia-Malaysia) salah satunya telah terbuka lebar. Dari semenanjung pesisir Bengkalis ke Selat Melaka perahu itu telah berlayar. Tegantung nahodanya bagaimana perahu itu bisa bersandar. 

Jika kita mencontoh kota-kota lain yang telah mampu mewujudkan sebagai kota pendidikan, maka salah satu ekosistem di dalamnya adalah literasi telah membumi. Budaya baca begitu tinggi, budaya menulis begitu dinikmati, sehingga tak heran, toko-toko buku hadir dan masih beridiri kokoh. Karena budaya menulis begitu tinggi, maka juga tidak haran penerbit buku juga begitu banyak. Beragam kegiatan untuk menumbuhkan minat literasi terus digalakkan. Perpustakaan selalu ada pengunjung, taman baca masyarakat (TBM) terus bertumbuh dan cara pandang masyarakat terus dinamis dan berkembang. Buku dijadikan kebutuhan bukan hanya sebatas tuntutan. Guru hobi membaca, siswa juga suka membaca. Argumentasi-argumentasi di ruang perkuliahan di dasarkan pada referensi-referensi yang dibaca. Para birokrat juga hobi membaca dan menuliskan berbagai pengalamannya yang kaya akan makna.


Orang boleh pandai setinggi laingit, namun ketika ia tidak menulis, ia akan hilang dari dari masyarakat dan sejarah – Pramoedya Ananta Toer


No comments

Powered by Blogger.