Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

PANTASKAH MENJADI GURU? SISWA VS OKNUM GURU BIOLOGI


Oleh *Khairul Azan*


Yara, salah seorang siswi SMA Negeri di Desanya. Yara merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya berprofesi sebagai petani, sementara Ibunya sebagai pembuat kue basah yang dijual pada lapak-lapak yang telah menjadi langganan. Hasil menjual kue digunakan untuk menopang kebutuhan keluara, biaya sekolah dan persiapan Yara lanjut ke jenjang perguruan tinggi, kebetulan saat ini Yara sedang duduk di bangku kelas tiga. 

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu anak-anak sekolah. Biasanya hari Minggu dimanfaatkan untuk membantu orang tua atau melakulan hal-hal yang menyenangkan mengingat seminggu anak telah menghabiskan kegiatan belajar di sekolah dengan setumpuk tugas. 

Namun minggu ini Yara terpaksa mengurungkan niatnya. Yara harus mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya. Satu persatu temannya mulai datang, Nila, Dey, Rey dan  Rio. 

Tugas kelompok yang diberikan guru biologinya sedikit aneh yaitu "Membuat Kue". 

Saat ini ekonomi masyarakat memang agak sulit, harga kebutuhan pokok mulai meroket. Kecil bagi orang yang berduit, namun besar buat orang yang penghasilan pas-pasan. Teman-teman Yara juga mengeluh karena harus meminta uang lagi kepada orang tuanya untuk membeli bahan-bahan membuat kue, begitu juga dengan Yara yang tahu Ibunya harus bangun pukul satu dini hari untuk membuat kue, namun apa daya, demi tugas yang diberikan oleh guru, berat meski dikerjakan.

Dengan uang patungan mereka pun membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Selesai membeli bahan mereka mulai berbagi tugas untuk membuat kue. Kue yang dibuat ada "brownis."

Lebih setengah hari, akhirnya berkat kerja sama brownis impiannya pun jadi, terpancar wajah ceria dari muka-muka polos mereka. Berharap kue yang dibuatnya disukai oleh guru yang memberi tugas. Jika dipotong-potong sepertinya akan menghasilkan 12 potongan yang berlapis. 

Dengan perasaan gembira, Yara, Nila, Dey dan Rio pun bergegas mengendarai sepeda motornya untuk mengantarkan kue kepada gurunya. Setibanya di rumah guru tersebut, terlihat pintu rumah masih tertutup, mereka pun mengucapkan salam untuk memberi tahu. Selang beberapa waktu, guru biologi itu pun keluar. Dengan wajah sinis tanpa menyuruh anak-anak tersebut masuk, melihat kotak kue yang dibawa Yara dan kawan-kawan, Ibu guru pun berkata "Sana bawa pulang kuenya, Ibu tidak terima, buat lagi, kuenya kecil." Dengan tidak beretikanya, Bu guru pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. 

Yara dan kawan-kawan merasa perjuangannya belum berakhir, berharap kue tersebut diterima gurunya dan lolos sebagai tugas. Merekan pun kembali mengetuk rumah guru tersebut "Bu buka bu, ibu lihat dan rasakan dulu kue yang kamis buat. Ini brownis." 

Namun sepertinya guru tersebut tidak memiliki niat baik. Akhirnya Yara dan kawan-kawan kembali kerumahnya masing-masing. Setibanya di rumah, Yara terlihat lesu dan kecewa. Yara menyampaikan kepada Ibunya bahwa kue yangi dibuatnya ditolak oleh gurunya. Ibunya juga merasa kesal karena tahu perjuangan Yara dan kawan-kawan menyelesaikan tugas tersebut. Dengan wajah yang kecewaa Yara pun menceritakan cara mengajar guru biologinya tersebut. Di kelas gurunya tersebut jarang sekali menjelasakan, sebagian besar menggunakan CBSA (Catat Buku Sampai Habis). 

Lewat kisah ini, ada beberapa hal yang menggelitik dibenak. 

1. Apa hubungannya membuat kue dengan mata pelajaran biologi? Apakah ini kekeliruan dalam memahami aksi nyata yang sekarang digalakkan? 

2. Dimana etika seorang guru untuk menghargai sekecil apapun usaha siswa (minimal dicipi dulu?) 

3.Apakah CBSA masih berlaku? 

4. Pantaskah menjadi guru? 


Pelabuhan Ro-Ro Sungai Pakning, 19 November 2023


Sumber gambar: Internet


No comments

Powered by Blogger.