LAYANG-LAYANG DAN BENANG
Oleh Khairul Azan
Ada sesuatu yang menarik jika berkunjung ke pulau Bengkalis. Salah satunya ketika sore hari cobalah sekali-kali datang ke lapangan yang berada di bibir kota. Kami menyebutkan dengan lapangan pasir yang lokasinya tepat di pinggir laut. Banyak sekali orang yang datang dengan berbagai tujuan. Ada yang hanya sekedar bersantai sambil menikmati ombak, ada pula yang ingin menikmati ragam kuliner yang dijual oleh pedagang setempat, dan tak kalah menariknya adalah sebagai tempat bermain layang-layang, baik dari kalangan anak-anak maupun orang dewasa.
Melihat layang-layang mengingatkan kita pada dua hal yaitu ada benang dan layang-layang itu sendiri. Layang-layang membutuhkan benang agar bisa terbang tinggi. Meski jika kita lihat, benang hampir tidak terlihat karena ukurannya yang kecil, namun mampu menjadi pengikat, penahan dan bahkan membuat layang-layang tidak bisa kemana-mana karena kendalinya.
Benang seringkali dianggap selalu membatasi kebebasan layang-layang. Namun meskipun demikian, dengan adanya benang, layang-layang bisa terbang tinggi dengan arah dan kendali. Jika dikaitkan dengan kehidupan, maka sesuatu yang terkesan membatasi bukan berarti itu buruk, justru batasan tesebut membuat kita berjalan pada jalurnya tanpa kehilangan arah.
Barangkali orang tua selalu membatasi, sehingga kita tak memiliki jalan sendiri, para kerabat selalu mengingatkan, sehingga kita merasa selalu diawasi. Mungkin apa yang kita impikan tidak bisa diraih karena harus mengikuti keinginan keluarga sehingga seringkali merasa jengkel dan bosan terhadap keadaan dan kondisi yang dihadapi.
Merasa jengkel dan bosan tentunya manusiawi, tetapi pernahkah kita berpikir ada hikmah dari apa yang terjadi. Batasan dalam kehidupan merupakan bagian dalam proses menjalani hidup agar tidak mudah oleng atau hilang kendali. Kita butuh benang sebagai arah. Nasihat, tanggung jawab, keluarga, prinsip dan nilai yang dianut menjadi pegangan agar kita tidak terlalu jauh melangkah.
Ketika angin tenang layang-layang tidak bisa terbang. Ketika ada angin barulah tubuhnya terangkat ke udara. Semakin tinggi ia dapat terbang, pasti semakin kuat angin yang dihadapi dan benang harus tetap terjaga. Demikian pula manusia. Tekanan, tantangan, dan kesulitan terkadang hadir bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membuat kita tumbuh lebih kuat. Apa yang hari ini terasa seperti hambatan, mungkin suatu hari akan menjadi kenangan sebagai kekuatan yang membantu kita mencapai tempat yang lebih tinggi sesuai dengan apa yang diinginkan.
Namun, benang pun tidak boleh terlalu kencang. Jika ditarik tanpa keseimbangan, benang bisa putus. Begitu pula kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita perlu bijak dalam memandang berbagai persoalan. Kita perlu belajar membedakan antara membimbing dan mengikat, antara menjaga dan mengekang. Orang yang kita sayangi membutuhkan ruang untuk tumbuh, mencoba, dan menemukan jalannya sendiri sesuai kemampuan masing-masing. Memberikan kebebasan bukan berarti melepaskan sepenuhnya, tetapi memberikan ruang sambil tetap hadir ketika mereka membutuhkan arah.

No comments
Post a Comment