Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

Selamat Datang di Laman Lentera Kehidupan

GELAS DAN AIR

 


Oleh Khairul Azan

Jarum jam menunjukkan pukul 14.41. Ponsel yang tergeletak di atas meja kerja tiba-tiba berdering. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Saya meraih ponsel itu dan membuka pesan yang baru saja diterima. Tidak ada yang istimewa dari sebuah pesan yang masuk pada siang hari ini. Karena memang selain sebagai media komunikasi pribadi, ponsel yang selalu dibawa kemana-mana tersebut juga difungsikan sebagai media komunikasi bisnis dengan para custumer. Sehingga menerima dan membalas pesan dari para custumer hal yang biasa. 

Pesan singkat tersebut berisikan sapaan dan pekenalan diri lalu berlanjut menjelaskan maksud dan tujuan. Dari komunikasi panjang melalui pesan yang dituliskan, kami sepakat untuk berdiskusi secara langsuang untuk bisa mendapatkan dan memberikan infomasi yang lebih detil, sehingga tidak lagi hanya sebatas virtual. 

Singkat cerita, sampailah dimomen kami saling bertemu, sebut saja namanya Kak Rafiani yang akrab disapa Kak Rani. Seorang yang kesehariannya berprofesi sebagai ASN di salah satu dinas yang ada di lingkup pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis. Diskusi panjang di waktu yang singkat berjalan dengan hangat. Pembicaraan terasa daging semua bagaimana menjadi pribadi yang produktif serta bermanfaat. Pengalamannya selama menempuh pendidikan di Bandung dan program Ph.D. di Jepang serta pengalamannya sebagai birokrat di dunia pemerintahan memberikan suntikan energi yang begitu dahsyat. 

Energi-energi positif dari orang lain akan menjadi nutrisi untuk kita dalam menjadi pribadi yang bernilai dan berguna. Adakalanya kita butuh orang lain untuk saling menguatkan bertukar informasi dan berbagi cerita. Bahkan bukan hanya sebagai teman yang mendengar, tapi dengan hadirnya orang lain membuat kita kembali mendapatkan semangat yang mungkin sebelumnya hilang. 

Hidup saling membutuhkan layaknya gelas dan air. Gelas adalah diri kita, sementara air adalah orang lain yang mengisi kekosongan. Gelas akan penuh ketika diisi air, sementara air juga butuh gelas agar mendapatkan tempat sebagai penampung. Gelas dan air berbeda, namun pada perbedaan itu muncul keterkaitan yang saling membutuhkan dan saling melengkapi kekurangan. 

Layaknya gelas dan air, maka manusia juga demikian. Tidak ada manusia yang betuk-betul sempurna yang menganggap semuanya bisa berjalan sendiri. Ketika kita merasa begitu bijak, maka perlu orang lain untuk memberikan saran. Ketika kita merasa serba tahu, maka perlu orang lain untuk tetap mengingatkan agar kita tahu atas ketidaktahuan kita. 

Hadirnya orang lain dalam hidup kita tidak harus selalu membawa hal-hal yang besar. Justru sesuatu yang kecil akan memberikan dampak dan daya dorong yang tingi. Terkadang lewat pesan singkat saja, yang awalnya kita cemberut karena dihampiri banyak masalah mampu membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Satu kata yang keluar mampu membangkitkan semangat seperti api yang berkobar. 

Begitulah cara Tuhan mengajarkan tentang kehidupan dengan jalan yang berbeda. Awalnya tidak kenal menjadi kenal, dan begitulah pulalah cara manusia untuk saling mengisi serta berbagi. Kita tidak dituntut untuk harus selalu memberikan sesuatu yang besar kepada orang lain. Melainkan siapa sangka, melalui perhatian kecil yang kita berikan justru menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain yang sedang membutuhkannya.

No comments

Powered by Blogger.