SEKOLAH SEHARUSNYA MENUMBUHKAN, BUKAN SEKADAR MENGUKUR
Oleh Khairul Azan
Sekolah seyogyanya adalah tempat tumbuh dan berkembangnya peserta didik dengan berbagai kompetensi yang diasah. Sekolah bukan hanya sebatas menjadi tempat mengukur kemampuan, melainkan memiliki fungsi yang bergitu luas dan kompleks. Bukankah pada saat anak diajarkan tentang membaca dan berhitung, pada saat yang sama, ia juga sedang belajar menghargai pendapat orang lain, menuggu giliran, bekerja dalam kelompok, bertanggung jawab, berani mengemukan pendapat, berani menerima kegagalan, terus mencoba, dan tak kalah penting juga ia mampu memahami bahwa orang lain memiliki cara berpikir yang berbeda.
Berbagai aspek perkembangan tersebut tidak mudah diterjemahkan dalam bentuk angka sebagai alat ukur. Anak yang sebelumnya takut untuk tampil dan bertanya namun berani tampil ke depan dan mampu bertanya, berapa nilai yang layak untuknya? Ketika anak mampu membatu temannya untuk memahami suatu pelajaran, berapa nilai yang layak untuknya? Ketika seorang anak yang gagal dalam percobaan pertama, kemudian mencoba lagi dan tidak menyerah, berapa nilai yang layak untuknya?
Pertatanyaan-pertanyaan mendasar diatas adalah bagian kecil dalam wujud implementasi kehidupan kita yang bukan hanya sekadar lembar jawaban ujian. John Dewey dalam Ensiklopedia Stanford tentang Filsafat, menjelasakan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi sebagai ruang tempat anak belajar melalui pengalaman dan kehidupan bersama. Dalam pemikirannya, sekolah juga memiliki peran dalam mengembangkan kebiasaan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkreasi, dan hidup sebagai bagian dari masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak jawaban benar yang mampu diberikan anak, tetapi juga dari bagaimana anak berkembang sebagai manusia dan mengaplikasikan pelajaran yang telah diperoleh dari berbagai pengalaman semasa menempuh pendidikan.
Pembelajaran hendaknya menempatkan pengukuran sebagai alat membantu perkembangan, bukan sebaliknya, menjadikan tujuan. Bisa kita bayangkan, setiap minggu anak dihadapkan dengan tugas, ulangan, kuis dan lain sebagainya. Setiap aktivitas pembelajaran dirasakan seperti kumpulan tes yang perlu dipersiapkan secara maksimal. Anak akan mulai bertanya “Ini keluar atau tidak dalam ujian?” bukan sebaliknua yaitu “Apa yang bisa saya pelajari dari pelajaran ini?”. Jika ini terus berlanjut, para guru juga akan terjebak pada situasi yang tak jauh berbeda. Pembelajaran diarahkan pada pencapaian target materi dan nilai dalam bentuk angka. Waktu pembelajaran di kelas lebih banyak diisi untuk memastikan jawaban benar atau salah, bukan menghadirkan pertanyaan-pertanyan pemantik yang lebih bermakna.
Sehingga apa yang terjadi adalah, sekolah akan berubah fungsi, yang seharusnya menjadi tempat anak bertumbuh, akar menjadi pohon, dari pohon tumbuhlah ranting, dari ranting tumbuhlah daun, dan dari daun menghasilkan buah yang manis. Tetapi menjadi hanya sebatas mengukur hasil daripada menumbuhkan manusia yang memberikan manfaat untuk orang banyak
Daftar Bacaan
Stanford Encyclopedia of Philosophy. First published Thu Nov 1, 2018; substantive revision Sun Mar 31, 2024.

No comments
Post a Comment