KACA VS. BATU
Oleh Khairul Azan
Kaca dan baru adalah dua benda yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Kaca dan batu memiliki bentuk yang berbeda. Kaca dengan bentuknya yang licin, indah, bersih dan memungkinkan kita untuk melihat sesuatu dibaliknya. Namun batu adalah benda yang keras dan tak lazim kita temukan warnanya yang gelap. Meski demikian, karena kekokohannya, bantu bisa diinjak, bisa dilempar, bahkan tahan akan sinar matahari dan terkena hujan.
Kaca dan batu menggambarkan tentang manusia. Manusia yang memiki sifat dan karakter yang berbeda. Berpotret pada kaca, maka ia memiliki hati yang lembut, peka dan mudah tersentuh. Terlihat mungkin dari luar ia baik-baik saja, namun perkataan-perkataan kasar yang keluar dari orang lain akan menyisakan luka mendalam baginya. Bukan berarti ia lemah, namun karena hatinya lembut tidak diperuntukkan untuk jiwa yang keras.
Sedangkan batu adalah gambaran manusia yang kuat, tenang, dan tidak mudah menunjukan perasaan. Bukan berarti ia tidak ada masalah, melainkan ia berdiri tegap menghadapi masalah. Bisa saja orang menganggapnya tidak memiliki perasaan karena ia tidak pernah mengeluh dan tidak empati.
Kaca dan batu sama-sama memiliki nilai yang jika dihubungankan dengan kehidupan kita sebagai manusia adalah cara untuk bertahan. Kita kuat dengan cara kita masing-masing. Ada yang kuat karena ia tak surut dan kalah dalam kesulitan. Ada pula yang kuat karena mampu memberikan maaf. Ada yang kuat karena air matanya menetes, dan adapula yang kuat karena masih bertahan pada prinsip diri untuk selalu menampilkan yang terbaik meski telah tersakiti.
Kaca mengajarkan tentang kejernihan hati dan batu mengajarkan keteguhan diri. Keduanya saling mengisi dan harus berjalan seimbang. Adakalanya kita menjadi acuh agar kuat, tanpa mempertimbangkan perkataan orang lain, namun adakalanya juga kita peka agar bisa merasakan. Ada kalanya kalanya kita kokok dan tidak mudah runtuh dan adakalanya kita terbuka, mahu mendengar dan mampu memantulkan cahaya.

No comments
Post a Comment